Showing posts with label PoetzLife. Show all posts
Showing posts with label PoetzLife. Show all posts

04 October, 2017

Drama Keluarga Online


Kecanggihan media komunikasi sekarang udah mampu mendekatkan jarak dan meniadakan batasan citra dan suara, salah satunya dengan lahirnya aplikasi Whatsapp, sodara-sodara gue udah pada punya smartphone, bahkan nyokap gue udah bisa mengoperasikan ponsel pintar sendiri secara pelan tapi pasti. Dan akhirnya, keluarga besar nenek gue pun punya Whatsapp Group Chat sendiri. Asoy! Dan yang namanya sekumpulan orang-orang mah ya, yang saling bicara menggunakan ketukan kiped enpon, pasti muncul konflik atau salah paham alias salah persepsi, dan salah satu nya masih anget baru diangkat dari kompor kejadian kemaren.

Alkisah beberapa orang keluarga gue minggu ini lagi ada di Semarang, di acara nikahannya sepupu sekaligus frenemy gue si Udin, yang kecantol cewek Semarang trus nikah dan resepsiannya hari Senin yang mana gue pasti engga bisa dateng, kan, Din. Selesai resepsi dan jalan-jalan naik delman ku duduk di muka berkeliling kota Semarang, tadi malem (Selasa) rombongan kembali bertolak menuju Jakarta, sebagian menggunakan kereta api, beberapa menggunakan pesawat. Semua kegiatan mereka terinci dengan detail disertai dokumentasi diunggah di grup chat, jadi orang kayak gue yang kaga bisa ikutan cuma bisa scroll-scroll aja sambil mesem-mesem.

Semalem, sejak matahari tenggelam, si kakak gue yang paling gede udah eksis banget di grup chat ngabsenin orang satu-satu, nanya udah berangkat belum, udah sampe mana, pipisnya lancar, suaranya mana, hingga semua yang otw melaporkan status sudah landing bandara Jakarta atau Stasiun Gambir  dan Senen. Entah bagaimana deal-dealan mereka sebelumnya, jam sembilan tiga puluh malem si kakak gue nomor dua ngasi tau kalo rombongan udah sampe di rumah dia di Jakarta Barat.

Here's the doomed thing.
Si kakak gue nomer satu sewot, dong. Dia lebih kurang ngomong kayak gini: "kalo emang mau ke rumah di Jakarta Barat kok ga ngasi tau dari awal, jadi gua kan ga perlu nunggu lama dari tadi (et dah), kalo gini mah kayak becandain gua aja kan namanya. Ga usah aja dah ke rumah gua kalo gitu." Sepertinya ada kesepakatan yang dilanggar, LOL. Mungkin nih, mereka sepakat mao ke rumah si kakak paling tuak di Ciputat itu begitu sampai Jakarta, atau sekalian untuk stay disana atau sejenisnya. Lantas gue, kayak kerasukan apa, malah reply chat dia dan bilang "Lah besok kan masih ada waktu. Pada kecapekan kan pulang jalan jauh. Istirahat aja dulu, besok maen-maen lagi". Gue emang ga biasa-biasanya ngomen di grup chat. Males aja. Udah hobi silent reader, kecuali kalo memang urgent sih. Tau-tau si kakak gue tercinta ini balas sewotin gue, bilang "Ga usah hibur gue, deh."
DANG, SIST!

I literally laughed hard at dat moment. Banyak draft balasan chat yang bersliweran di kepala gue kala itu, tapi gue cuma bilang "ya udah sih, aku tidur duluan ya dadahh." Yang sebenernya gue masih melek abis, karena penasaran kelanjutan drama keluarga ini gimana. Dan yep, yang lain pada gantian komen baek-baekin si kakak gue ini bilang faktor macet lah, hujan, mau ambil barang dulu ke Jakbar sana, dan mereka akhirnya bener-bener ke rumah si kakak gue ini bela-belain tadi malam karena sepupu gue yang laen ngelapor status "otw Ciputat" pada jam sepuluh tiga puluh. HOLY SMOKE!

Abis itu gue kayak speechless gitu. Dan kejadian ini bikin gue kayak throwback ke diri gue beberapa tahun yang lalu, dengan segala keegoisan yang gue punya hingga kadang mengorbankan keluarga dan temen-temen terdekat. Lalu egocentrics itu mengklimaks, meluap-meluap hingga tumpah ruah dan selanjutnya gue merasa kosong. Antiklimaksnya, ya gue yang sekarang. Less selfish indeed, that I can brag about. Saat keegoisan gue masih eksis, dan itu melibatkan keluarga gue, mereka tetap menuruti mau apa mau gue. Sedikit perdebatan sudah pasti, namun sudah jelas gue pemenangnya. Still, they loved me for who I was, and that feeling still going on strong until today. 

Dan gue bersyukur kemarin tidak berkomentar terlalu jauh terhadap sikap kekanak-kanakan kakak gue itu. Karena gue sebagai adiknya, juga pernah berlaku sama terhadap dia dan sodara-sodara gue yang lain. Dan menjadi dewasa bukan berarti kita harus selalu menerima keadaan, memaklumi akan hal, tanpa pernah menyampaikan ketidak sukaan, tanpa pernah menginginkan sesuatu secara eksplisit. 
❤❤❤

PS: 
I have no intention to expose the negative sides of my sibling(s) or family things.
I just wanted to share this story as one lesson to learn, also as reminder for my self.
Keep peace, love and gawl~

26 June, 2017

Eid Mubarak!

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H semuanya.
Postingan pertama di 2017 langsung dihajar dengan  joyful wish in these blessing days.
Mohon maaf lahir dan batin yah.
Maafkan karena ternyata gue kembali mengkhianati janji sendiri yang katanya mau sering-sering ngepost. Apaan, yang ada gue nyaris dibikin tengkurap dengan kerjaan yang udah 30 hari dalam sebulan khusus di bulan Ramadhan. Dari yang almost do nothing, to do almost everything. Beruntung sahur dopping kelapa muda menambah staminakuh. Gokil!
Cuti bersamanya panjang yah, enak bener buat yang employee kayak gue seminggu di rumah tapi juga ga punya rencana kemana-ngapain ujung-ujungnya pasti mageerr pffttt.
Anyhow, enjoy your holiday. Wish me luck for having a huge spirit to polish this blog again.
Si Andie aja yang hibernasi empat tahun bisa langsung combo attack, kenapa gue engga?
Hihihi~

Eid Mubarak to everyone!

26 November, 2016

Bisa Karena Biasa

Bosan setengah mampus.
Itu yang lagi gue rasain. Ga berasa udah mau empat bulan gue di kantor ini, di jabatan baru ini, di kerjaan baru. Inget gue pernah janji bakal sering cerita tentang my daily basis di blog? Meh, I failed. I mean, I really didn't know what to share here, guys. Karena ternyata di posisi sekarang gue lebih banyak santai nya dibanding kerja yang menguras pikiran ato tenaga. Dalam satu bulan masa kerjaan gue ini bisa dihitung berapa hari yang gue pakai buat kerja. Itupun karena ada email dari kantor Palembang ato ada permintaan ini itu yang urgent.

Iya sih, di bulan pertama gue digeber dengan ke lapangan untuk total operasi pasar yang segera dieksekusi dalam 2 minggu, disusul dengan 1 minggu persiapan berkas laporan, lalu santai lagi. Selanjutnya lagi disuruh untuk survey lapangan untuk persiapan produk terbaru bidang komersial yang pada akhirnya gue anggap sebagai proyek ga niat karena disuruh prepare tapi ga dikasih budget untuk apapun. I mean, c'mon, yang namanya kegiatan berbau komersial sudah pasti will need adequate cost untuk selanjutnya diolah untuk menghasilkan omset dan margin. Warung kecil aja perlu modal buat beli barang untuk dijual. Apalagi gue yang disuruh untuk merangkul masyarakat kecil tingkat RT-RW untuk menjalin kerjasama, lalu kita supply beberapa kebutuhan pangan pokok untuk selanjutnya mereka pasarkan dengan final goal-nya kita untuk kemudahan akses kebutuhan pangan dengan harga murah tercapai. Butuh modal gede; dalam bentuk rupiah, bukan omongan.

Masalah lain adalah, gimana mau menawarkan kerjasama, jika barang yang ditawarkan itu bahkan ga lengkap. Kasarnya nih, gue ajakin kerjasama jualan, tapi gue cuma punya satu jenis barang dagangan, elo harus mau jual dagangan gue dengan HET yang udah gue tentuin. Barang dagangan lainnya elo sediain sendiri. Itu satu. Yang kedua, gue mau ajak lu kerjasama buat tender pembelian beberapa macam barangnih, elu sebagai supplier gue, tapi gue bayarnya belakangan pas barangnya itu udah laku gue jual. Bahasa bisnisnya sih, konsinyasi. Gimana menurut ngana?

Dengan banyaknya konstrain disana-sini, segala preparation yang ga didukung sama kantor Palembang, tanpa SOP dan WI yang jelas, instruksi ga resmi lebih banyak daripada yang resmi, lalu komunikasi yang cuma dua arah, lama-lama cape juga, ya kan? Semangat gue yang awalnya udah kayak 200%, sekarang udah mulai tinggal remah-remah doang. Setiap ketemu kendala, gue konsul ke kantor Palembang, dan hanya satu dari sepuluh pertanyaan gue yang ada jawabannya. Selebihnya, mengecewakan. And they, oh well, they didn't even care with my progress. They didn't even bother to ask whether I happen to find a problem that need further assistance. They just left their soldier alone at war.

So?
Dengan semua permasalahan dari minor hingga major, membuat gue menjadi effortless, hampir menjadi malas dan persetan dengan target dan progress karena sama sekali ga ada perhatian dari bagian terkait di kantor pusat Palembang sana. Keengganan membuat gue menolak untuk berupaya lebih. Temen-temen pernah bilang kalo gue workaholic yang doyan lembur di akhir minggu demi kerjaan selesai. Sekarang? Look at me, pals. Sedikit stress dibumbui rasa hopeless membuat gue akhirnya menjadi seorang yang ga peduli. Dan semua jadi biasa karena ternyata gue juga bisa ngelakuin hal yang dulu sangat gue benci dari beberapa orang yang gue tuduh suka gabut tanpa alasan.

And believe me, you're about to lose your another potential soldier very soon.

05 August, 2016

Roti Cokelat di DPRD

Hari ke lima di bulan Agustus.
Hari ke lima di atmosfer kerja baru.
Hari ke lima di pekerjaan baru.

Akumulasi dari idle-nya gw beberapa hari ini menghasilkan satu tugas baru; kemarin disuruh atasan untuk menggantikan beliau untuk hadir di rapat Paripurna DPR Daerah. HAHAHAHAHA! Ya sih, kepikirannya kayak apa banget kan ya. Dateng untuk hadir di rapat DPRD. Ruang dan suasana megah dengan acara yang khidmat dan bertemu berbagai macam jenis dan rupa politikus. Kenyataannya?

Gw dateng on time bro! Habisnya di kantor lagi ga ada kerjaan, sih ya. So bergegas lah ke DPRD belagak jadi seseorang yang tepat waktu pula kita. Dan layaknya kebiasaan orang Indonesia yang susah hilang, sih, rapat baru dimulai jam 09:50 WIB. Molor lima puluh menit. Lalu kerjaan gw? Cuma duduk diem sambil ngemut-ngemut roti cokelat sambil denger pembukaan oleh Bupati yang suaranya kayak Optimus Prime di kuping gw. Sound system-nya ga cihuy. So kaga tau dah si Pak Bup ngomong apa.

Dan dari hampir enam puluh menit pembukaan oleh si Bupati dimana kosakata yang gw paham cuma kata APBD, sesaat kemudian rapat usai. Atau dipending, karena ishoma. Teuing sumpah. Udah lah molor sejam, pembukaannya sejam, lalu bubar jalan. Anying pisan.. Ga lagi gw hadir untuk rapat siang. Mending balik ke kosan untuk nonton Upin Ipin. Dan berharap buat ga usah balik ke kantor sampe besok paginya.

Kelamaan gabut ga enak juga, ya kan?

02 August, 2016

218,1 km

By the time I'm writing this, it's not only second day of August, but also been the second day at my new office. Different city. Different people. Different job. Different salary.

Why/how?

Gw juga kaga tau, tiba-tiba pertengahan bulan lalu saat lagi gegoleran di musholla, bertubi-tubi datangnya notifikasi chat Whatsapp dan Telegram. Temen-temen bilang, gw dapat promosi. Bergegas gw melihat inbox email kantor. And yeah, they're not bluffing.

Yang mereka ga bilang adalah, promosinya gw ke kantor di daerah yang berjarak 218,1 km dari Palembang. Five hours traveling by road. Buat sesaat (satuan hari) gw nge-blank. Stress. Dan bingung mau apa/gimana. Sembari masih mengerjakan pekerjaan yang lama (karena promosi tersebut efektif dari satu Agustus/kemarin), pikiran gw bercabang dan gampang terdistraksi. Selera makan gw drop, sampe datang bulan gw aja telat dua minggu. The will to take the job wasn't 100%. Setengah bagian otak gw menolak promosi tersebut, setengahnya malah berpikir sebaliknya. Beban yang memberatkan adalah fakta bahwa gw pindah kantor, yang jaraknya makin jauh dari Palembang, makin jauh dari bandara, makin jauh dari rumah. Dan dari sekian employee yang memenuhi kualifikasi, kenapa musti gw yang ditarok disana? The hell, man?

And keeps me wonder, sampai gw menulis postingan ini, dan akan selalu menjadi statement retoris bagi diri gw sendiri; betapa nasip pekerjaan kita sangat bergantung dari sekelompok orang-orang yang diberi label "atasan/bos" dan betapa kampretnya kadang lobi-melobi menentukan masa depan. Gw merasa jijik.

Yet here I am. 218.1 km away from Palembang. Bahkan gak terhitung lagi jaraknya dari rumah.


Pffttt...

18 October, 2015

Spontaneous!!

"Mention one of your most memorable spontaneity things ever happened so far in your life."


THIS.

Bener-bener dadakan. Dan sepertinya memang dadakan adalah tim sukses segala peristiwa maha penting di semesta ini. Ahsek!!

Bermula dari mention-mentionan di Path antara gw dan @ferfau disamber oleh @tupperwarez, ga perlu diskusi njlimet dan senja itu jadi lah kita meet up di sela rintik hujan dan kerlip jalanan kota Bukittinggi. Singkat, namun sangat berkesan. Walau badan dibalur lelah, seketika diusir oleh ha ha - hi hi ketawa kita cerita tentang random things, mostly saat kita lagi berjaya sebagai anak twitter jadul. Oh my, lol.

Next time lagi, ya guys.
Tapi kayaknya kita cerita musti terstruktur dengan durasi yang lebih lama.



Sent from Blogger Android

19 September, 2015

Menjejak di Pulau Laskar Pelangi

So di beberapa kesempatan yang lalu, gw dapat tugas dari kantor untuk monitoring dan evaluasi program kerja kantor yang ada di Bangka dan Belitung. Seneng dong ya, akhirnya gw bisa main-main di Pulau yang melejit berkat karya Andrea Hirata itu dimodalin ama kantor. Dan yang namanya Mon-Ev thing, gw bisa apa dengan durasi yang mepet; cuma 2D1N. Gw berangkat juga cuma bertiga, dua yang lain itu bapak-bapak yang.. oh well youknowlah kan yah. So, setelah transit di Pangkal Pinang, kita sampai di Tanjung Pandan udah agak sorean dan langsung ke kantor sana buat cek-ricek kerjaan yang ditugaskan oleh kantor Palembang.

Syukurlah ga banyak problem yang ditemuin. Performance output kantor sini juga cihuy lah, ga banyak yang musti dilaporin ke kantor Palembang. Yep, misi utama dikelarin dulu ya kan, abis itu baru have fun go mad. So ketika kerjaan udah kelar, agak maleman, kita drop barang bentar ke hotel Belitung Inn lalu cus lagi buat cari makan. Every single second worth every penny, dude.

Besoknya, early in the morning kita langsung check out dan bareng temen2 kantor Belitung, jalan-jalan muterin dalam kota untuk selanjutnya beranjak agak jauhan dikit menuju Museum Kata Andrea Hirata. Dari kota Tanjung Pandan menuju Museum Kata engga jauh, kok. Kira-kira 30 menit aja, apalagi ga ada macet. Jalan di Belitung dan jalan di Bangka itu udah bagus, dan kebanyakan dibikin kayak jalan tol, lurus aja ga belok-belok. Penunjuk jalan menuju tempat-tempat yang terkenal juga banyak dipasang, jadi kecil kemungkinan nyasar. Lagian penduduk lokalnya ramah-ramah, kok.

cobain Kopi Kuli dan goreng pisangnya deh, anget-anget enyak!!

Temen kerja gw si bapak berdua puas foto-foto di penjuru Museum Kata, mereka hinggap di salah pojokan deket dapur Kopi Kuli, soalnya ada yang jual batu satam. You know kan, sekarang batu akik sedang mewabah, dan batu satam khasnya dari Belitung adalah yang paling dicari karena dapetinnya susah-susah gampang, juga bikin dompet kering.

Puas di Museum Kata, kita mampir ke Pantai Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi, tempat yang terkenal karena jadi lokasi syuting Laskar Pelangi. Cuaca cerah bin panas terik sebenernya cocok buat foto-foto. Cuman karena pikiran gw udah parno duluan, takut ketinggalan pesawat kalo keenakan foto-foto di pantai ini so gw ga mau lama-lama.

pasirnya tuh yaa sesuatukkk~~

sempat iseng jepret panorama
 

Saking menikmatinya di pantai Tanjung Tinggi, si Bapak ngomong ke gw, "Tau gini mending kita balik nya besok aja kan, weekend juga ini. Nyebrang ke pulau Lengkuas juga belom." Hadeh, kenapa pas kemaren disuruh ama kantor buat 2D1N, merekanya angguk-angguk aja gitu ga protes. Gw juga mau baliknya hari Minggu aja, cuman nasip sebagai yang lebih muda, cuman bisa angguk-angguk aja pas disuruh short visit. Sekarang nyesel kan. Udah disini tapi ga sempat ke semua tempat wisatanya.

Jam dua siang, kita cus balik ke bandara untuk penerbangan si singa merah jam tiga lewat lima belas. Next time pasti kesini lagi. Pake modal duit sendiri biar puas exploring semua spot menarik di pulau Belitung. ♥

20 December, 2014

Day Four; Mengunjungi Museum Angkut

Kelar gemporin kaki di Jatim Park II, hari berikutnya kita berniat buat menjajal Museum Angkut. Early in the morning kita ke mampir dulu ke Alun-Alun Kota Batu buat sightseeing dan nyari sarapan, habis itu barulah kita ke Museum Angkut, modal konvensional; jalan kaki dan nanya orang sana-sini

Tempatnya luaaass banget. Luas museumnya menurut gw udah nyaingin luas Jatim Park II, karena udah mau malem kita berasa belum cukup aja explore semua section di museum ini. Yang namanya Museum ya, isinya koleksi item-item tertentu dari masa ke masa, bahkan ada dokumentasi dari awal penciptaan item tersebut. Dan Museum Angkut, tentunya semua yang berbau transportasi. Tenaga manusia hingga teknologi terkini, rangka kayu hingga rangka besi. Dari dalam negeri sampai ke benua Afrika sana. Semuanya dipajangin disini.

becak baris berbaris di stasiun jayakarta kw super
jepretan gw dari lantai dua..
Dan masi banyak foto-foto transportasi yang kayaknya ga perlu gw aplot kesini, kali ya. Biar puas menikmati, kalian kunjungi aja museum angkut yang diklaim terbesar di Asia Tenggara ini!! Siapin stamina, isi perut kenyang-kenyang, cas handphone sampe full dan bawa powerbank, karena makanan minuman dari luar dilarang masuk, dan kamera proffesional dikenakan extra charge untuk bisa dibawa ke dalam museum. Handphone sekarang mah udah canggih-canggih kan, yak!

08 December, 2014

Day 2

Hi, again. :)))

So yesterday gw lupa update. Jadi ceritanya gw cicil mundur sekarang, lol.
Begitu landing di stasiun tujuan, yang ternyata ngaret 2 jam dari jadwal seharusnya, kita langsung melipir nyari makan. Ga peduli lagi ama badan dan penampilan yang udah lepek lengket, panggilan perut ini harus dipenuhi dulu. Yang teringat ya cuma satu; McD. Dengan modal maps, muter-muter ga jelas keluar masuk pasar satwa akhirnya nemu juga McD di kawasan pertokoan Sarinah, di depan es krim jadoelnya Oen.

Pada ngeh ama es krim Oen?
Kalo iya pasti udah tau gw dimana.

Yep.
Gw ada di Malang.
To be exact, kita ke Malang cuman lewat doang.
Ehehehehehehe..

Tujuan utama kita adalah kota wisata Batu. Letaknya kira-kira 45menit perjalanan darat santai dari Malang.

Hey Ho~!!
Begitu keluar dari Stasiun Malang kita udah disambut dengan keramaian kota dan keramaian sopir angkot-becak-taksi-travel nawarin jasa angkutannya. Kita mah mau murah meriah alias angkot dong, secara budget celengan ayam. So, dengan modal google maps jaman jahiliyah alias nanya sana sini, akhirnya kita naik angkot dengan kode ADL/AL. Angkot ini akan nganterin kita sampe terminal Malang. Disana kita switch ke angkot ungu, bilang aja mau ke Batu. Sesuai perkiraan, Malang-Batu ditemani hujan. Alhasil batal niat nyari-nyari hotel/penginapan murah. Ternyata ditawari sama si sopirnya ke salah satu kenalannya. Kita karena udah kepepet oleh hujan akhirnya kita terima aja penawarannya si Bapak (yg belakangan gw tau namanya Bapak Riadi). Dua kamar penginapan available, rate 250k/night. Mahal, emang. Tapi ya karena the mighty power of really kepepet dan hujan, terpaksa diterima. Daripada basah-basah nyari lagi.

And yes, kita sama sekali ga bikin reservasi penginapan. Alasan kita karena minggu ini belum masuk holiday season, jadi mending ga usah reservasi apalagi jika kelasnya "cuma" penginapan-penginapan low budget, under 200K. Hihihi~

Yep, malam pertama di Batu kita mager abis. Hujan non stop sampe malem, jadi kita ga bisa kemana-mana. Akhirnya malam dibabat dengan main Uno. Beruntung penginapan mehong ini dikasi ruang tamu, dilengkapi dengan dapur dan perangkatnya. Dan like I said karena belum holiday season, cuman kita doang tamunya, jadi bisa leluasa. HAHAHAHAHA~
pemandangan di depan penginapan tersiram hujan. dan itu gunung yang gw lupa namanya.



hujan non stop dan Uno adalah obat kebosanan. :))
Besok kita kudu harus wajib jalan-jalan, nih.
Emang jauh-jauh ke Batu cuman buat maen Uno doang kan ga asik jugak.
Semoga cuacanya adem.

Uhuy!

07 December, 2014

Day 1

Good Morning!!

It's already 6:22 am here somewhere I have no idea to be exactly. *sengaja ga ngecek maps biar gw ga tau, biar lebih greget, mpret*

Trip ini udah lama banget masuk agenda. Rasanya udah 2 kali pergantian tahun hingga akhirnya trip ini terealisasi. Kemarin-kemarin selalu terkendala di cocokin jadwal. Dan tahun ini akhirnya jadi, ya walaupun kita ga ngambil schedule akhir tahun. Jadilah gw, Ndut and Kibo yang on the rail pagi ini.

Awal perjalanan aja udah kisruh. Kita ditinggalin oleh sang kereta malam tanpa kabar. Jadwal berangkat jam 15:15 tapi gw masih bergelut di menjamurnya macet ibukota. Plus hujan udah mulai turun. Si Kibo yang dari Bandung dan si Ndut yang udah bela-belain buru-buru padahal siangnya baru landing, pas banget last minute nyampe stasiun Senen, tapi karena gw akhirnya kita merelakan kereta Matarmaja berlalu. Sedih. Tiket murah meriah yang kita pesen jauh-jauh hari hangus.

Dan selanjutnya dengan perasaan berdebar kita (lebih tepatnya gw, doang) ngantri di loket membesarkan harapan masih ada keberangkatan berikutnya dan seat kosong.
Tuhan Maha Asik, masih ada seat, buat kereta Majapahit di jam 17:20. Gw langsung sumringah. Tapi sumringahnya bentar doang, dengkul rada lemes juga denger harga tiketnya. Harganya 5x harga tiket yang hangus tadi. Mamak!! :(((

Ah ga apa lah, yang penting berancuts!!
Nunggu tiket harga gocapan mah udah mustahil lagi ada.
Kerasa banget time is money di loket ini. Siapa cepat dia dapat, jauh-jauh hari pesan dapat harga miring.

Jam 17:20 yesterday, we're on the go! :DD
And now we're almost there.
Estimasi durasi 14 jam perjalanan.
Jalan jauh begini jangan lupa sediain bekal kelas ringan dan menengah, air putih, sweater, pengusir kebosanan (kartu UNO, mp3 player, gadget sih yang paling gampang) dan perangkat obat-obatan.

Nanti gw update lagi, yak.
Mata sepet banget minta dipejemin bentar, lol


Posted via Blogaway

06 December, 2014

Somewhere Uhuy!!

Greeting!!

Owh it's been soo a while.
By the time I'm writing this, gw sedang on the rail to somewhere I've never been before.
It's still 21:01 WIB and so damn cold omg! Temen-temen gw malah ngatain gw aneh.
Yang mana setelah gw liat-liat, cuma gw doang yang kayaknya kedinginan, pasang switer, minum tolak angin biar ga meriang, pasang safe care di jari-jari tangan karena sumpah, gw merasa dingin banget!!
Semoga badan gw fine-fine aja, deh.
That's not the point, though.

Finally, I'm on trip.
Akan gw usahain buat update ketika ada colokan tersedia karena trip kali ini will be super duper exciting. Semoga!!

Will update again very soon.

Xoxo.

09 May, 2014

Go Bangka! Post #2 (late post)

Menyambung postingan "on the board" gw sebelumnya yang udah berminggu-minggu yang lalu, gw mau share cerita pada malam-malam berikutnya di Sungai Liat, Bangka.

Seperti yang gw udah prediksikan, kita akhirnya berlabuh di Dermaga Muntok/Mentok, jam 12 tengah malem. Hahahaha, miris amat ketawa gw. Begitu mobil kita menyentuh aspal, temen gw yang bawa mobil langsung ngegas menuju hotel kita di Sungai Liat. Well kalo liat di peta, Dermaga Muntok dengan Sungai Liat itu posisinya ujung kiri ke ujung kanannya pulau Bangka. Yang jika diingat-ingat pada tengah malam jam 12, kondisi capek dan badan lengket oleh keringat akibat 8 jam perjalanan, rasanya nano nano. Bagi gw kala itu, shit just never gotten this real, lol.

Beruntung, jalanan sepi, aspalnya masih bagus dan mulus, ga banyak polisi tidur dan gangguan kiri - kanan jalan, sehingga temen gw bisa ngebut. Modal kita menuju hotel hanya GPS, yang diharap semoga akurat. Btw tempat kita menginap namanya Novilla Boutique Resort, yang belakangan gw tau kalo inilah hotel yang dimanajeri oleh Chef Desy pemenang Masterchef 2012. (Foto-foto dan review tentang Hotel ini bisa kalian search di Agoda ato TravelAdvisor). JAM TIGA KAMI MENDARAT DI KAMAR MASING-MASING. Perjalanan ini benar-benar super!! *ngakak koprol*

Seperti ga mau melewatkan sedetikpun momen berharga, pagi kami udah jalan lagi. Tujuan sudah jelas; ngepantai!! Inilah salah satu alasan kami memilih Sungai Liat; pantainya bagus-bagus, jarak antar pantai gak jauh. Pantai yang populer adalah pantai Parai (dengan Parai Resortnya yang keren sekali, sayang aja kemaren udh full-booked), lalu pantai Matras dan Pantai Tanjung Pesona (dengan Villanya yang konon populer untuk hanimun). Ga beruntungnya ketika kami pengen menyusuri garis pantai sampe ke ujungnya (kalo ada), lagi ada acara lomba tri athlon Bangka Open 2014 sehingga beberapa akses jalan ditutup. Tapi gpp, masi ada beberapa area pantai yang gak dipake, kok.

Pantai Matras di pagi hari. Cling banget cyin~

pasirnya sesuatuk ya :3
overall ini foto yang paling gw sukak! >,<

selfie all crew. untung muat ya :))
pantai Parai nih! view sore hari mau sunset. nyes banget~

pantai Parai terkenal dengan batu-batu besar yang ada di sepanjang pantai. bisa buat tiduran!!


Kalo liburan emang ga cukup sehari dua hari doang. Apalagi satu hari kita udah dipake dan dihabiskan di jalan (which was way out of my plan) sehingga cuma tersisa satu hari aja dan itu ga akan cukup untuk explore Sungai Liat. Kita baru jelajah dua pantai dari sekian pantai yang katanya bagus. Belom eksplor kotanya, belom eksplor kulinernya.

Btw tentang culinary, syukurnya kita keburu untuk hunting salah satu kuliner khas Bangka; Lempah Kuning dan Jus Kedondong. Lempah kuning itu kayak pindang juga. Yang bikin enyakk karena waktu dihidangin kerasa banget ikannya segar, serasa mereka bikin lempahnya itu by order, bukan distok gitu :D *sorry no pic available, udah kalap karena lapar soalnya. so foto by gugling aja yes*

But yes, I definitely will come again someday. Dan di kunjungan berikutnya gw pengen menjajal Pangkal Pinang, dan sekitarnya. Dan semoga kunjungan berikutnya lebih lama dan lebih lancar dari yang pertama. Yay! ;)))

18 April, 2014

Go Bangka!

Gw lagi di atas ferry, btw. Akhirnya on board juga. Setelah sebelumnya bergumul dg keringat dan panas terik matahari sejak jam 10 pagi. Setelah stress sembari mikir apakah akan bertahan dengan status kapal yang gak menentu, atau balik kanan, pulang. Jika balik kanan, status revervasi penginapan menguap tak memberi jaminan uang yang ditransfer untuk penginapan akan kembali 100%. Emosi menggodok semuanya jadi satu. Hingga akhirnya, entah kenapa, kami tetap bertahan. Mungkin karena posisi mobil kami sudah di line depan antrian.

Satu fakta yang gw peratiin. Kalo lo mau cepet naik kapal, selipan lo harus tebel. Harus pinter-pinter mendekati petugas pelabuhan, pinter-pinter ngomong, lalu kemudian,, you know lah. Dan terpaksa kami melakukan hal yang sama. Melunakkan gigi dari lidah. Demi melancarkan niat untuk sampai tujuan.

And.. we're on the go.
Ada banyak hal yang cacat dalam sistem penyebrangan penumpang ini. Begitu sampe di pos pembelian tiket, tidak ada yg namanya antri. Cuman jalur mobil barang yang dibedakan. Jalur mobil berpenumpang dan penumpang tanpa kendaraan digabung. Rebutan sudah, yang gesit dan suara lantang, dia yang duluan dilayani. Pfftt..
Lalu masuklah kita ke line antrian mobil. Ketika ferry pertama bersandar, entah prosedur apa yang diterapkan oleh petugasnya karena kita ga dikasi nomor antrian dan petugasnya juga kaga ngecek tiket kita sama sekali. Potensi selip-selipin duit sangat gampang terendus. Dan yak, kita gak kebagian kapal pertama.

Then several idle times later, datanglah kapal kedua. Namun lagi-lagi, ada aja kecurangan. Lebih banyak truk barang yang datang belakangan namun didahulukan naik kapal, kemudian ada beberapa mobil penumpang yang juga dapat slot naik. Ga jarang gw liat juga si petugas semacam minta duit apa gitu ke masing-masing supir sebelum menaiki kapal. Again, we should wait. Wait for the uncertainty.

Dan disinilah muncul masalah dan penggalauan massal.
Hari sudah menunjuk pukul 12 siang ketika kami mendapat kabar bahwa kapal terakhir baru akan berangkat jam 4 sore. Wtf? Masi empat jam lagi, belum ditambah durasi perjalanan lebih lama karena kapal terakhir adalah kapal barang sehingga jalannya agak "ngesot"  belum lagi perjalanan dari pelabuhan Mentok di Bangka menuju penginapan yang sudah kami sewa berjarak 3 jam perjalanan darat. Dan kami buta jalan!! Omfg!!

Emosi di titik maksimal. Panas terik matahari serasa menghanguskan kemampuan untuk berpikir.
Harapan gw udah mentok. Niat mau melancong ngirit dengan sewa mobil dari Palembang, berakhir dengan penantian super lama yang menguji emosi dan kesabaran. "Tau gini mending gw naik pesawat aja deh!" adalah salah satu kalimat penyesalan yang gw hindari untk diucapkan karena we were already half way to get there.

And now we're on the ship, heading to Bangka Island. ETA on 11pm / 12am. Counting more hour to hour just gets closer to my nerve. Good God, please save us. Wish us huge luck, huhu..


Posted via Blogaway

02 January, 2014

Pesawat

Aerophobia. Habis googling tentang ketakutan ketika naik pesawat. Ogah juga lah ya, mencap diri sendiri sebagai pengidap gejala phobia seperti itu. Tapi normal gak sih, kalo setiap boarding, detak jantung gue lebih cepat dari biasanya?

Gue nulis ini di ruang tunggu keberangkatan, sembari nungguin waktu transit yang masih seratus lima puluh menit lagi menuju jam empat sore untuk penerbangan gue berikutnya ke Palembang, medan perang tempat mencari sekarung goni berlian, haha! Kembali ke intro gue tadi, pada setiap perjalanan dengan maskapai udara gue selalu mengalami sindrom ga jelas ketika boarding, akan take off, dan selama penerbangan. Belum lagi perasaan gelisah bikin gue gak bisa tidur (kalopun ketiduran itu karena udah kecapekan), tangan ama kaki dingin banget dan makin kaku oleh dinginnya AC pesawat.

Apalagi kalo pesawatnya udah geter-geter tuh, yaudah parno-lah gue, separno-parnonya gue yang pernah merasain paranoid. Adaa aja yang kepikiran, gimana kalo pesawatnya begini, gimana kalo pesawatnya begitu, gue gak bisa berenang, ikatan dinas gue belom kelar, gue masih jomblo. Dan yang bikin gue makin takjub adalah kenapa penumpang yang lain belum take off aja udah ngorok dengan sukses. Bangunnya kalo udah landing aja. Ga berasa udah sampe aja. ENAK BANGET KAYAK GITU!! Sementara gue susah payah misah misuh banyak-banyakin doa dan shalawat agar cuaca gak mendung, tiap bentar liat jam liat kiri kanan depan belakang berharap mbak-mbak pramugarinya nyeletuk agar siap-siap untuk mendarat. Dan ketika udah landing leganya plong banget, apalagi kalo udah ninggalin bandara tuh, rasanya syahdu sekali *oke ini lebay*.

Untunglah gak pernah sekalipun di pikiran gue semenjak kecil dulu bercita-cita menjadi pilot, pramugari, astronot atau sejenisnya. Paling tidak gue gak punya perasaan bersalah terhadap masa kecil gue yang terkhianati. Tapi kalo diajakin olahraga terjun payung, bungee jumping, parasailing dan sejenisnya mah hayuk! *soalnya kan kita kan emang disuruh menjatuhkan diri gitu, lol*

Eniwei, gue transitnya di bandara Hang Nadim Batam. Jadi kalo sekarang ada yang nanya "udah pernah ke Batam belom?" gue udah bisa dengan percaya diri menjawab "udah!" dengan mengenyampingkan kenyataan kalo gue cuma numpang duduk, numpang pipis dan numpang ngadem di dalam bandara. Dan dari beberapa bandara yang udah pernah gue singgahi, bandara ini gak jauh beda ama bandara Minangkabau di Padang dan bandara S.M. Badaruddin II Palembang. Ini dari sekilas gue liat aja ya. Tapi dibandingkan dengan dua bandara tersebut, bandara Hang Nadim punya banyak outlet dan toko di dalamnya. Jadi gak gersang-gersang amat lah, heheheu~

Udah ah segitu dulu ceritanya. Batterai laptop udah mau mokad.
I'll share more since I've promised myself to update more and more in this blog. *halah komitmen dari kapan tau mah ini*
Doakan gue sampai dengan selamat, ya!

And before I forget, it's January 2nd and already 2014.
Happy 2014 to all of us.
Goal set, resolution set, and good luck! :D

12 September, 2013

Grandmom

I believe this is the best pic I had taken from all moments I had with her. The best-close up-old pic of my late grandmom, taken 2 years ago. I felt terribly bad for not having pic of us together. Damn you, self. We were having annual open house at her house, where we, her children, grand children and grand children's children to gather around, greet each other, enjoy the meals and laugh together as if tomorrows never came.

I remember once Mom said that Grandmom's sight couldn't work well anymore. She worked very hard relying on her hearing. And for me that was, amazing. She was 84 and still able to remember me, exactly on the first guess, by only hearing one sentence came through my mouth. And on every open house being held every year, that was one official thing I and we always did. To greet her, and then laughed since she greeted us back confidently and smiled very wide.

"Glad to have you here, kids."

And when we're about to share some THR to our nephews and nieces, you didn't wanna get left behind. You also got plenty of money to share to us. Us, including the adults, same amount for all. You gave me 50K, Nek, never changed since I was on college :))

"Glad to be here again, Nek."

Taken : Bukittinggi, 23 September 2011
Cam : Sony DSC-W35, 72 dpi, w/ additional resizing.
Nek, this year open-house was truly empty.
No more room where we, your children, your grand children and grand children's children willing to sit, gather around and spend some little time together. A little spare time among all the busiest days we have.
No more "talk-and-guess-who" chit chat, Nek.
And no more you.
That hurts the most.
In an early remembrance of one year passing
 of my beloved Granmom
(Oct 2012 - Oct 2013)

14 August, 2013

Welcome Back

To the hectic days.
Days of sorrows and angers which mostly hi-temper.

Senin kemaren kembali meninggalkan kehidupan leha-leha di rumah dan kampung halaman untuk kembali berkutat dengan yang namanya pekerjaan. Sigh.
Iri dengan temen2 yang dapat tambahan extra days off.

Gw?
Permohonan cuti aja ditolak.
Ijin libur cuma diapprove satu hari.
Alasannya ya karena monthly report kita udah over-deadline jadi harus dikejer cepet.
Pffttt...

Selasa officially got to work uwo uwoo..
Dan setumpuk kertas beserta laporan sudah menunggu.

ini baru setengahnya... *sisir kumis*
Ah life...
Soon, very soon, I will get my revenge heohhhh...

09 August, 2013

Lebaran Tahun Ini..

Tanpa kehadiran Nenek.
Itu hal pertama yang gw ingat di pagi 1 Syawal kemarin.
Ga ada Nenek, rasanya open house di rumah beliau terasa hampa, itu yang kepikiran ama gw di pagi 1 Syawal kemarin.
Dan ternyata bener.
Si Emak pun kali ini "titip absen" di open house rumah Nenek. Gw dengan berat hati menurut, karena mikir kalo ninggalin Emak sendiri di rumah trus nanti ada tamu dan anak-anak kecil pada minta THR kasian si Emak repot sendiri.
"Salam-salamannya kan udah pas kelar Sholat Ied, jadi ke rumah Nenek-nya bisa entaran", kata Emak.

Syawal ini, empat tahun dirayain tanpa kehadiran Bokap,
dan 10 bulan kita ditinggal Nenek.
Perasaan nyesek klo menunggu Syawal tahun berikutnya yang rasanya masiihhh lama, sembari jantungan mikir apa kita masih bisa kumpul kayak gini.

Kata orang Lebaran tahun ini rame.
Rame karena mayoritas "aliran" senada dan idem dengan keputusan pemerintah.
Rame karena ada yang semua anggota keluarganya mudik, rumah jadi meriah.
Rame karena sendirinya berpikir begitu.
Bagi gw biasa aja.

Awal 1 Syawal tahun ini ditemani hujan. Awalnya sendu lalu serak-serak basah, hingga jemaah yang awalnya ingin sholat di halaman masjid mengurungkan niat dan terpaksa memakai ruangan mengajar yang lokasinya di samping masjid.

Awal Syawal tahun ini gw lebih banyak di rumah, jaga kandang, tukang bagi-bagi THR ke anak2 yang datang ke rumah, dan stand by aja kalo ada rombongan orang2 dewasa yang bertamu, kasi alert ke yang punya tamu.

Anyhow...

Gw tetep harus bersyukur bisa menikmati Syawal di 1434 Hijriah ini.
Dengan atau tanpa kehadiran orang-orang yang dekat di hati, tetap harus menundukkan hati ke al Khaliq bahwa kita masih diberikan nikmat dan rezeki se-tanpa batas ini.

Alhamdulillah.

Selamat Idul Fitri 1434 H, temans.
Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Semoga bisa benar-benar dimulai dari nol lagi.
Insya Allah.

*sekalian selamat ultah untuk diri gw juga. secara Hijriah tanggal 1 Syawal ini gw berulang tahun, fufufu~

part of memories that lasts forever..
Foto diambil sekembalinya gw dan keluarga mengunjungi Bokap, Nenek dan anggota keluarga yang lain di Family Memorial Park a.k.a Pusara.

23 June, 2013

birthday-graphy

*ehem*
Aloalo~
Jujur gw tadi agak grogi pas mau akses blogger. Malu ama niat sendiri. Janjinya dulu itu sih yaaa, mau kasih buanyaakk apdet. As I've told myself most of the times then I lied at the same times. Pffttt.

Thanks to miwwa yang nyinyir mengingatkan gw (dan mungkin ke blogger yang lain juga) akan blog yang setengah terbengkalai ini, akhirnya icon "compose" ini ke-klik juga, mwahahahaha. Sebelumnya udah BW ke blognya si miwwa dan ngelihat doi udah progress beberapa biji postingan aja bulan ini, ajeeb. Lalu keinget ama postingan dia yang ini, dan unluckily orang ga berdosa kayak gw ikut-ikutan ditag, so here goes.

Di gambar yang diaplot si miwwa dinyatakan kalo ini adalah thirty days photo challenge, tapi sori miw,, disini judulnya diganti menjadi suka-suka gw photo challenge :)))

Photo-post kali ini temanya agak wow aja gitu ya karena bau-bau eventnya masih kerasa bok! *halah*  Temanya birthday-graphy. Judul yang aneh tapi biarlah yaa, namanya aja suka-suka gw. Jadi suka-suka authornya dong. *jayusss*

Err, ini dia beberapa...



superb sekali baunya kawaann..

dengan beberapa oknum..


 
2 am berlari membalaskan dendam x))

Well iya, ini acara penghinaan terhadap bertambahnya usia gw dua minggu yang lalu. Kebetulan acaranya berbarengan dengan ultah sebuah subForum lokal tempat biasa gw ngamen nongkrong selama beberapa tahun terakhir ini. Ultah subForumnya sih sebenernya sehari setelah ultah gw. Tapi karena faktor jadwal dan waktu, jadinya ultah si SubForumnya dimajuin sehari bareng2 ama ultah gw.

Sebenernya ada kepikiran sih, kalo gw bakal diperlakukan dengan cara hina kayak gini. Tapi jadi ragu sendiri juga sembari mikir, gak mungkin juga lah gw yang jauh-jauh dateng mendaki gunung lewati lembah menyelami selat untuk menghadiri acara kalo ujung-ujungnya diteplokin telur dan tepung. Eh, taunya,, abis perayaan ultah Forum yang ke-7, giliran gw yang digang-bang dengan *katanya* sekilo telur dan setengah kilo tepung terigu. Tinggal kasi garam dikit udah jadi omelett.

a 7-and-27 cake :")
But my true words are, I really appreciate all the efforts they've done to conduct the event. I mean, apa sih yang mengikat kita untuk harus dateng? Gak ada, cuman rasa akrab-kayak udah kenal lama aja yang bikin mau cape-capein badan jauh-jauh menempuh perjalanan, kemacetan dan banjir untuk bisa ketemu, hang out, ngobral ngobrol ga jelas, mengesampingkan semua urusan dulu untuk bisa saling say hi and cheer up. Mungkin ini alasan kenapa gw masih betah stay nongolin diri di forum ini. At least, that's what I feel until now.

Dan astagfirullah itu bau telur di switer ama jilbab ampe sekarang susah ilang, padahal udah 3 kali cuci, udah dikasi pewangi pakaian, eau de toillete, pewangi semprot dan sejenisnya :|

Eh kalo foto-nya engga keload sempurnahh kasi tau gw yak, miskol ato buzz aja gitu. Soalnya itu link gw comot dari photo albumnya temen2 aja. Dari link-link yang berbeda pula soalnya, hehew.

Last bite before I took off to the airport, ini gw diapit para pelaku tragedi di malam sebelumnya. *ada wajah yang familiar ama kalian gak? selain wajah gw tentunya =D*

10 January, 2013

Hahahahahaha

Hahahahahahahahaha~~

*echoed*

*dibekep*

Et dah terakhir ngepost disini tahun kemaren yang gw juga ga tau tanggal berapa, dan baru sekarang, he ehh baru sekarang, Januari 2013, gw posting lagi, HAHAHAHAHA...

Lamaa banget ngeliatin blog ini. Pagesnya, gadgetnya, terutama itu photostream yg entah kapan terakhir diupdate. Masih aura2 konser aja itu fotonya -__-

Ehem, apa kabar?

Terakhir gw ngepost di 2012, lokasi gw masih di kampung halaman tercinta, Bukittinggi, Sumatera Barat. By the time you guys read this, I'm desperately tercampakkan ke kota yg jauh dr rumah. Demi sesuap nasi, sekarung berlian, dan segentong mpek-mpek.

Astaga itu di photostream gw masi kurus aduh ya ampunnn..

Loves, lifes and hopes rolling quick yaa,, temen2 yang gw kenal udah move on and adapt aja.
Andi udah anteng ama kuliahnya *dan patjar permanen, ihik*, miwwa yg ternyata udah sarjana *omg gw merasa supertua haha*, ijek yg udah punya Tupperwarez Jr, *guanteng poll*, serta dearest friends, family and mates yg udah punya update-an yg sering terlewatkan ama gw. Aduh coba itu masing2 dikasi rss feed kan enak :D

Few friends asked about me and how I've became a lil bit "stagnant" on blogging. Sebenarnya engga hibernasi total, sih. Di twitter masi nyablak kayak biasa *last time I checked ada workmate yg kesel diomongin di twitter, lol*, di personal messenger clients masi ada kok walo rada megap-megap, hihihihi.

*add aquuh eaapps 23abba86*

Terakhir yg nanyain "kabar" gw itu si Miwwa, via twitter. And dia juga yg membuat gw akhirnya bikin postingan ini. No, miw. This isn't dedicated only for you, Miw. Jangan ge er lho ya, hahahahaha :p

*baru sadar juga klo di BlogRoll udah pada so last years update-nya. Hadeuh malas editing..*

I'm still collecting piece by piece of my inspiration and thought so I can load tons of words into this blog, guys. Blog posting never dies for me. Pray for me, mates.


Until we toss again!! :D


-PoetZ

08 September, 2011

The Ponakans

Begini begini, gue udah punya banyak ponakan loh. Baru lahir ke dunia aja udah langsung jadi tante *benerin kerah baju*. Etapi ponakan kandung yang gw punya baru 7 orang sih; tiga orang cowok dan empat orang cewek. Hasrat pengen bikin tulisan ini muncul setelah ketemu dengan mereka di moment Ied kemarin. They've grown up. Karena enam orang diantara mereka tinggal di luar kota, jadi setiap pertemuan dengan mereka itu memberikan sesuatu yang berbeda. Yah, sesuatu banget :3

Ponakan gw yang pertama, seorang perempuan, inisial U. Anak pertama dari kakak cowok tertua gw, yang lahir waktu gw berumur 8 tahun. Udah masuk kuliah, tanggal 3 kemaren dia ditemenin ama bokapnya ke Malaysia untuk mengurus prosedur pendaftaran ulang dan segala sesuatu yang diperlukan. Udah ABeGeh, dan yap, udah punya akun tuit juga loh, hohoho eksisss. Kita udah saling follow-followan dan sometimes ngakak sendiri baca tuit-tuit galau dia *dilempar kaca berjamaah*. Kadang-kadang kalo mikirin dia yang udah mau kuliah ini menampar gw dengan kenyataan "Oh my, I'm growing old!"

Adiknya, adalah ponakan gw tertua kedua, inisial A. Alhamdulillah yah, sekarang lagi menuntut ilmu di Pondok Pesantrennya Ustad Yusuf Mansyur. Hopefully would be good for him, karena waktu SMP dulu dia agak introvert. Dan seperti remaja cowok kebanyakan, di kamarnya ada robot-robot sejenis Gundam, majalah game, PS, dan PSP. Semoga kamu menjadi remaja yang berbakti pada nusa bangsa ya, nak. Eh iya, dinding kamarnya dicat biru bernuansa laut, bikin gw mupeng. Adem soalnya :D

Lalu ponakan gw yang ketiga, inisial M. Gw saksi mata perkembangan dia dari lahir, ya karena dia dan ortunya tinggal bareng gw. Usianya 11 tahun, namun sikap dan caranya bergaul dengan teman-temannya tidak mencerminkan umurnya. Gw bisa mengerti, karena melihat hidup dan pergerakannya sehari-hari yang tak pernah jauh dari induknya. Pola makan, pole pergaulan, pola tata bicara, pola tontonan, udah orang dewasa banget. Somehow, gw jadi kurang sreg sama M. Dewasa sebelum waktunya. Kalo gw menyebutnya; terlalu bijak. Jadi makin diperhatiin makin menjengkelkan. But hey, she's just a kid. A very jenius imitator. Jika dia seperti itu, maka gw harus berkaca dan melihat ke diri gw sendiri, seberapa besar pengaruh diri gw terhadap perkembangan pribadinya. *tepok jidat*

Lalu ada R, ponakan cowok gw adeknya si U dan A. Ana bontot dan manja, hahahaha biasa sih. Baru masuk SD. Lumayan dekat ama gw, walo ketika TK nauzubillah nakalnya ampe gw habis ditabok-tabokin karena alasan ga jelas. Pokoknya liat gw mau nabok aja bawaannya -___-" But somehow keakraban bisa muncul dari hal-hal menyakitkan seperti itu, dan terbukti!:D

Kemudian si S, anak tunggal dari sodara gw yang lain. Setahun lebih muda dari M, also a very jenius imitator, dan juga bawel kayak emaknya, hahaha. Karena emaknya sering mudik, otomatis kami jadi sering bertemu, dia selalu bertemankan si M, dan selalu "cari ribut" ama gw, hahahahah. Bawelnya Subhanallah, pasti dapet dari gw ato emaknya nih -___-" Penggemar berat tombak bawang, brokoli dan pensi (kerang kecil2 yang direbus dan diberi bumbu). Makanan yang unik untuk anak seumuran dia :D

Lalu ada dua ponakan yang sangat amat jarang gw bisa temui. So sad, tapi mau gimana lagi. Pasangan ponakan gw ini tinggal bersama ibunya di Jawa dan sangat jarang sekali bisa mengunjungi kamu terkendala biaya transportasi yang mahal. Jadi untuk menghilangkan kerinduan, Ibu mereka sering mengirimkan poto-poto mereka. One more thing that also made me sad was the fact that they speak Javanese more fluently that Bahasa or Minangnese. Haruskah gw belajar bahasa Jawa dulu untuk bisa berkomunikasi dengan mereka?

Ah well, itu ponakan-ponakan gw. Pintar, bodoh, nakal, penurut, bawel, menjengkelkan, atau apapun sifatnya, mereka masih anak-anak. Peniru ulung. Jadi ingatlah jika ingin memarahi mereka karena sesuatu, pikirkan kembali darimana dan bagaimana sesuatu itu bisa terjadi. Sekali perkataan kasar terucap, tindakan kasar terlaksana, tak akan bisa ditarik, tak bisa di-undo, dan bisa saja tindakan itu mendorong masa depan anak-anak itu lebih dekat ke arah kesuraman.

Astaga gw lupaa! Ini postingan pertama gw setelah lebaran.
Selamat Idul Fitri temans! Maaf lahir batin yahh *ciyum satu-satu* :D