02 August, 2016

218,1 km

By the time I'm writing this, it's not only second day of August, but also been the second day at my new office. Different city. Different people. Different job. Different salary.

Why/how?

Gw juga kaga tau, tiba-tiba pertengahan bulan lalu saat lagi gegoleran di musholla, bertubi-tubi datangnya notifikasi chat Whatsapp dan Telegram. Temen-temen bilang, gw dapat promosi. Bergegas gw melihat inbox email kantor. And yeah, they're not bluffing.

Yang mereka ga bilang adalah, promosinya gw ke kantor di daerah yang berjarak 218,1 km dari Palembang. Five hours traveling by road. Buat sesaat (satuan hari) gw nge-blank. Stress. Dan bingung mau apa/gimana. Sembari masih mengerjakan pekerjaan yang lama (karena promosi tersebut efektif dari satu Agustus/kemarin), pikiran gw bercabang dan gampang terdistraksi. Selera makan gw drop, sampe datang bulan gw aja telat dua minggu. The will to take the job wasn't 100%. Setengah bagian otak gw menolak promosi tersebut, setengahnya malah berpikir sebaliknya. Beban yang memberatkan adalah fakta bahwa gw pindah kantor, yang jaraknya makin jauh dari Palembang, makin jauh dari bandara, makin jauh dari rumah. Dan dari sekian employee yang memenuhi kualifikasi, kenapa musti gw yang ditarok disana? The hell, man?

And keeps me wonder, sampai gw menulis postingan ini, dan akan selalu menjadi statement retoris bagi diri gw sendiri; betapa nasip pekerjaan kita sangat bergantung dari sekelompok orang-orang yang diberi label "atasan/bos" dan betapa kampretnya kadang lobi-melobi menentukan masa depan. Gw merasa jijik.

Yet here I am. 218.1 km away from Palembang. Bahkan gak terhitung lagi jaraknya dari rumah.


Pffttt...

18 October, 2015

Spontaneous!!

"Mention one of your most memorable spontaneity things ever happened so far in your life."


THIS.

Bener-bener dadakan. Dan sepertinya memang dadakan adalah tim sukses segala peristiwa maha penting di semesta ini. Ahsek!!

Bermula dari mention-mentionan di Path antara gw dan @ferfau disamber oleh @tupperwarez, ga perlu diskusi njlimet dan senja itu jadi lah kita meet up di sela rintik hujan dan kerlip jalanan kota Bukittinggi. Singkat, namun sangat berkesan. Walau badan dibalur lelah, seketika diusir oleh ha ha - hi hi ketawa kita cerita tentang random things, mostly saat kita lagi berjaya sebagai anak twitter jadul. Oh my, lol.

Next time lagi, ya guys.
Tapi kayaknya kita cerita musti terstruktur dengan durasi yang lebih lama.



Sent from Blogger Android

19 September, 2015

Menjejak di Pulau Laskar Pelangi

So di beberapa kesempatan yang lalu, gw dapat tugas dari kantor untuk monitoring dan evaluasi program kerja kantor yang ada di Bangka dan Belitung. Seneng dong ya, akhirnya gw bisa main-main di Pulau yang melejit berkat karya Andrea Hirata itu dimodalin ama kantor. Dan yang namanya Mon-Ev thing, gw bisa apa dengan durasi yang mepet; cuma 2D1N. Gw berangkat juga cuma bertiga, dua yang lain itu bapak-bapak yang.. oh well youknowlah kan yah. So, setelah transit di Pangkal Pinang, kita sampai di Tanjung Pandan udah agak sorean dan langsung ke kantor sana buat cek-ricek kerjaan yang ditugaskan oleh kantor Palembang.

Syukurlah ga banyak problem yang ditemuin. Performance output kantor sini juga cihuy lah, ga banyak yang musti dilaporin ke kantor Palembang. Yep, misi utama dikelarin dulu ya kan, abis itu baru have fun go mad. So ketika kerjaan udah kelar, agak maleman, kita drop barang bentar ke hotel Belitung Inn lalu cus lagi buat cari makan. Every single second worth every penny, dude.

Besoknya, early in the morning kita langsung check out dan bareng temen2 kantor Belitung, jalan-jalan muterin dalam kota untuk selanjutnya beranjak agak jauhan dikit menuju Museum Kata Andrea Hirata. Dari kota Tanjung Pandan menuju Museum Kata engga jauh, kok. Kira-kira 30 menit aja, apalagi ga ada macet. Jalan di Belitung dan jalan di Bangka itu udah bagus, dan kebanyakan dibikin kayak jalan tol, lurus aja ga belok-belok. Penunjuk jalan menuju tempat-tempat yang terkenal juga banyak dipasang, jadi kecil kemungkinan nyasar. Lagian penduduk lokalnya ramah-ramah, kok.

cobain Kopi Kuli dan goreng pisangnya deh, anget-anget enyak!!

Temen kerja gw si bapak berdua puas foto-foto di penjuru Museum Kata, mereka hinggap di salah pojokan deket dapur Kopi Kuli, soalnya ada yang jual batu satam. You know kan, sekarang batu akik sedang mewabah, dan batu satam khasnya dari Belitung adalah yang paling dicari karena dapetinnya susah-susah gampang, juga bikin dompet kering.

Puas di Museum Kata, kita mampir ke Pantai Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi, tempat yang terkenal karena jadi lokasi syuting Laskar Pelangi. Cuaca cerah bin panas terik sebenernya cocok buat foto-foto. Cuman karena pikiran gw udah parno duluan, takut ketinggalan pesawat kalo keenakan foto-foto di pantai ini so gw ga mau lama-lama.

pasirnya tuh yaa sesuatukkk~~

sempat iseng jepret panorama
 

Saking menikmatinya di pantai Tanjung Tinggi, si Bapak ngomong ke gw, "Tau gini mending kita balik nya besok aja kan, weekend juga ini. Nyebrang ke pulau Lengkuas juga belom." Hadeh, kenapa pas kemaren disuruh ama kantor buat 2D1N, merekanya angguk-angguk aja gitu ga protes. Gw juga mau baliknya hari Minggu aja, cuman nasip sebagai yang lebih muda, cuman bisa angguk-angguk aja pas disuruh short visit. Sekarang nyesel kan. Udah disini tapi ga sempat ke semua tempat wisatanya.

Jam dua siang, kita cus balik ke bandara untuk penerbangan si singa merah jam tiga lewat lima belas. Next time pasti kesini lagi. Pake modal duit sendiri biar puas exploring semua spot menarik di pulau Belitung. ♥