03 November, 2013

Things I Loathe Recently..

Kamis minggu yang lalu, bertepatan dg akhir Oktober, begitu sampai kantor langsung denger desas-desus yang gak enak. Dua orang pegawai CS (Cleaning Service) kantor diberhentikan mendadak dan diminta untuk tidak lagi datang bekerja esok harinya (Jum'at). Alasan PHK juga gak jelas, cuma dibilang kalau budgeting kantor lagi gak stabil. Wtf?!

People in this building aren't stupid. Yet mostly lack of finding out what's exactly happening with those 2 CS Staff. Semua (termasuk gue juga, damn!) bisa bilang "Kasian, ya." dengan gampangnya tapi cuma sampe situ doang. Me? Paling tidak gue udah mencoba nyari tahu walo akhirnya yang ada gue kesal ga jelas ke siapa. Alasan PHK terlalu mengada-ada, kata temen gue yang di Keuangan. Budget untuk CS dkk tiap bulannya udah dianggarkan dari HO, bahkan melebihi pengeluaran rutin jadi totally ga ada sama sekali make kasnya kantor sini. Wadefuq itu yang ngomong budget kantor lagi ga stabil ngehe abis. Belum lagi the "SuperBoss yang khusus ngurusin masalah SDM ini lagi kaga ada di tempat dan sante banget pas ditanya via sms jawabnya "Saya gak tau menau tentang itu coba kamu tanyain ke si anu si itu.." Omfg Pak, modus banget itu alasannya. At least you can say tiny thing but helpful or small solution since it's all about somebody's future, dibanding malah ngoper lagi ke orang lain. Bloody hell!

The worst thing to be working in state company is, semua prosedur/mekanisme itu udah ada urut-urutannya. Lo gak bisa ngomong ke the very-super-Boss tanpa sepengetahuan/seizin SuperBoss, tentunya juga setelah diomongkan dengan boss lo. Another case, few weeks ago. AC di musholla dua-duanya butuh diservis. None stands the hot weather when we do the praying, dude. Dua kipas angin engga cukup mengakomodasi kebutuhan jamaah musholla. And so, permintaan servis AC udah dilayangkan ke pihak terkait di hari pertama AC itu rusak. Gue tau alasannya udah pasti efisiensi. Until I write this, totally no response.

Saking emosinya gue dan beberapa temen2 udah greget mau nyari tukang servis sendiri dan patungan bayarin servisnya. Ya berapalah yaa kalo patungan, pasti ga berat di dompet. Tapi begitu dinasehatin ama senior lain, tetiba gw jadi ilfil.

"Ngomong dulu deh ke bagian Tata Usaha, ntar Bapaknya marah lagi karena kalian servis AC ndiri-ndiri aja."
"Ngapain pake ngomong? Ngomong ato engga efeknya sama aja. Kalo ngomong, dia pasti ga ngasi izin dengan alasan bla bla bla. Bagusnya malah gak diomongin sama sekali, toh dianya juga gak rugi, duit gak keluar, AC tau-tau udah bener."
"Iya tapi nanti pas ada tukang servis masuk tanpa sepengetahuan dia bisa makin panjang masalahnya. Masi lama dia itu pensiunnya itu."
"Grrr apa perlu masalah kek gini langsung gue cut off ngomong ke Kadivre aja nih, mumpung doi sering mampir ke ruangan gue? Mau solusi efektif aja sampe muter-muter gini jalannya!!"


Dia diem..

Akhirnya, lama-lama semangat gue luntur juga. Then, I quit yelling.
Dan kembali ke masalah si mbak-mbak CS tadi, last time I heard mereka mau menunggu penjelasan SuperBoss yang terkait tentang masalah PHK yang mendadak minggu depan nunggu ybs masuk kantor. Paling tidak mereka ga nerima gitu aja alasan PHK dari bagian Tata Usaha. Semakin bergelimpanganlah alasan2 PHK yang ga jelas. Ada yang bilang sentimen beberapa pihak tadi lah, ada yang bilang kalo adanya keinginan untuk tidak lagi memperkerjakan perempuan sbg CS, ada yang bilang kalo jumlah CSnya kebanyakan tapi kerjanya ga efisien, bla bla bla.

Dari dulu gue sering blak-blakan bilang kalo gue ga suka ama kantor/perusahaan ini. Hanya saja pernyataan gue kala itu belum terjabarkan dengan baik. Ga suka dengan apanya kantor ini dulu, aspeknya kan banyak. Awal-awal gue kerja disini dan jadi staff operasional, yang mencolok jadi faktor nomor satu untuk gue benci sejadi-jadinya adalah kesejahteraan SDM yang timpang. Timpang antara staff operasional dan staff teknis. Ga imbang antara orang lapangan dengan orang kantor. Sama-sama ga ada duit lembur, tapi beban pekerjaan staff operasional begitu besarnya namun reward yang diberikan hanya yang itu-itu saja. Harusnya bisa sama-sama libur di wiken, tapi masih ada aja perintah tertulis untuk tetap beroperasi 24/7 kayak udah mo ngalahin Sevel.
Ga bisa menyalahkan SDM kantor ini, karena mereka juga menerima instruksi yang sama dengan daerah lain. Then I loathe the HO's HRD, to the fullest, including the people who run it, since they're the thinkers, the conceptors yet they can't (or wouldn't) accommodate the major needs of their human resources from all over regional divisions in Indonesia.

Itu baru satu, dari sekian banyak lubang-lubang kecil yang muncul. Lama kelamaan akan saling meluas hingga membentuk satu lubang besar, menarik semua yang di dekatnya untuk masuk ke dalamnya, dan menghancurkan hingga ke pondasi perusahaan, jika mereka masih enggan untuk mulai memperbaiki ketimpangan-ketimpangan yang terjadi secara perlahan dari sekarang.
Small acts, but certain, might won't affect significantly but quite enough to be remembered, and to be repeated over and over again until they last permanently.

And I still loathe these, and them, till I don't know when it stops.


Thanks for reading my midnight gripe.
I hope that it won't happen to y'all ;)

2 comments:

miwwa said...

aku bingung mau komen apa un.. :/

.PoetZ. said...

:))