22 January, 2010

Menentukan Arah

Pikiran gw kembali ke pertengahan 2008, ketika satu hari engga sama dengan 24 jam dan langkah kaki dibayang-bayangi oleh deadline seminar skripsi. Kala itu, gw dan beberapa oragn temen seperjuangan lagi chit chat mengenai "arah". Mau kemana dan gimana kita setelah skripsi selesai, wisuda, dan udah ga jadi mahasiswa lagi. Simply, each of us of course wanted to find a great great job and wanted to be a useful person.

Itu idealnya, alias target, alias rencana, alias planning. Terwujud ato engga, kita sebagai aktor juga yang menentukan keberhasilannya. Gw masi ingat waktu itu kita berlima sepakat akan melakukan "yang terbaik" untuk menjadi yang terbaik. Semua udah punya rencana. Begitu juga gw. Kita sudah punya persiapan untuk arah yang akan kita jelang.

Kembali lagi ke kosakata rencana. Kita yang bikin, Tuhan yang memvonis bisa jadi kenyataan ato engga. Rencana gw mengalami perombakan total ga lama setelah gw wisuda. Tanggal 19 Februari 2009, dua bulan setelah gw wisuda, ayahanda tercinta dipanggil ke hadiratNya. Engga mendadak sih, tapi cukup membanting semangat hidup gw hingga retak. Salah satu "kejadian besar di tahun 2009" itu mutlak membuat semua rencana gw harus disusun ulang, membuat gw harus mempertimbangkan ulang kemana jadinya "arah" ini.

Salah seorang sahabat gw, yang udah lebih dulu wisuda daripada gw, and she's one of the best in our class. Salah satu lulusan terbaik, report akademik dan non-akademiknya sangat membuat iri. Hingga hari ini, gw belum mendengar any good news dari dia, berkenaan dengan karirnya. Gw belum mendengar dia udah dapat kerja di instansi ato perusahaan apapun. A huge WHY came in my mind. Bagaimana mungkin orang "sepintar" dia tidak juga mendapatkan pekerjaan hingga hari ini??

Ga perlu waktu lama untuk mendapatkan jawabannya. She couldn't leave her family; her spoiled brother yang ga bisa apa2 tanpa dia, nyokapnya yang sakit kambuh2an, dan neneknya yang,, kita ngerti lah. Dia bilang "kayaknya arahnya ya kesini deh, Put. Gpp deh, aku menikmatinya kok" Dia memutuskan untuk stay di Padang, dan menerima semua resiko dari keputusan dia sendiri.

jadi salut gw...

Dan gw??? "Arah" gw belum jelas, ga kayak sohib gw itu. Sepertinya "arah"nya emang kesini, ga jauh2 dari rumah, ga jauh2 dari kampung halaman. Ato mungkin menunggu arah itu dibelokkan ke tujuan lain yang belum jelas. Kemaren dapat kerja di UN yang buka kantor di Padang, tapi cuman buat tiga bulan. Dan sekarang udah nganggur lagi. Sebelum separation clearance (pemutusan kontrak) dikeluarkan, bos gw sempat menawarkan apakah gw mau bergabung untuk kantor UN yang akan dibuka pertengahan tahun ini di wilayah Indonesia timur (she said Papua!! aha) dan akan membutuhkan staff besar-besaran. Then I said yes, and my name is on her list.

Tapi apapun bisa terjadi hingga tengah tahun. Anything is Possible, andie said. Dan gw ga mungkin bersantai2 hingga tengah tahun dan kemudian terbang ke Papua untuk kembali kerja, kan? Sodara gw udah berulang kali menelpon, ngajak gw buat "pindah" ke Jakarta, menetap, nyari kerja, dan berkarir disana. Namun jawaban gw engga pernah pasti. Jawaban terakhir yang gw kasi buat menenangkan dia adalah "aku tetap masukin lamaran ke Jakarta, tapi kalo udah ada panggilan test ato interview, baru deh aku kesana"

Hufh, kenapa arahnya belum juga jelas??? :( :(


2 comments:

zeki said...

cari kerja sana!!!
jangan masukin lowongan orang saja!!!
#pecut #masukinkegentong >,<

.: PoetZ :. said...

iya nduuttt >,<